Dongeng Dibalik The Metal Opera

•December 16, 2009 • Leave a Comment

Avantasia - The Metal OperaAvantasia merupakan judul dari cerita karangan Tobias Sammet, pendiri Metal Project dengan nama yang sama, Avantasia, yang dikompilasi dalam album The Metal Opera dan The Metal Opera Part II. Nama Avantasia merupakan gabungan kata dari “avalon” dan “fantasia” yang berarti “dunia yang melebihi imajinasi manusia”. Diberi nama Metal Opera karena project ini memiliki alur dan setiap peran memiliki pemeran (penyanyi) masing – masing.

Bersetting di tahun 1602, cerita tersebut menceritakan tentang seorang pemuda bernama Gabriel Laymann yang mengikuti perintah untuk melakukan perburuan penyihir (witch) di era Saint Dominic. Namun ketika Ia bertemu dengan adik tirinya yang seorang penyihir, Anna Held, mulai tumbuh keragu-raguan dalam diri Gabriel.

 Suatu hari Gabriel menyelinap ke perpustakaan, dan membaca buku terlarang. Namun, gurunya mengetahuinya, Gabriel akhirnya dijebloskan ke penjara bawah tanah. Disana ia bertemu dengan seorang tua yang bernama Lugaid Vandroiy (“Reach Out for the Light”), yang memberitahunya akan dunia Avantasia, dunia di dimensi yang lain, yang sedang dalam bahaya besar. Vandroiy menawarkan untuk membantunya menyelamatkan Anna, jika Gabriel setuju membantu Avantasia. Akhirnya mereka meloloskan diri (“Breaking Away”), menuju sebuah portal yang merupakan pintu masuk dua dimensi tersebut, Vandroiy mengirim Gabriel ke dunia Avantasia itu.

 Sementara itu, Johann Adam von Bicken, seorang Uskup dari Mainz, Bruder Jakob dan Falk von Kronberg melakukan perjalanan menuju Roma untuk bertemu Paus Clement VIII (“The Glory of Rome”). Mereka membawa buku terlarang yang dibaca Gabriel. Sebuah dokumen tua menyebutkan bahwa buku tersebut adalah pusaka terakhir dari tujuh segel, yang akan memberikan pemiliknya kebijaksanaan absolute, jika pemiliknya membawa buku itu ke menara yang ada di tengah-tengah Avantasia.Tobias Sammet

 Ketika Gabriel sampai di Avantasia (“Avantasia”), ia disambut oleh dua orang penduduk Avantasia, yaitu seorang elf yang bernama Elderane dan seorang dwarf yang bernama Regrin (“Inside”). Mereka memberitahunya mengenai peperangan melawan iblis, rencana sang Paus, dan konsekuensinya (“Sign of the Cross”). Jika Paus menggunakan segel itu, hubungan antara dunia Avantasia dan dunia manusia akan rusak, dan kedua dunia akan mengalami kehancuran. Gabriel tiba di menara tepat waktunya, ketika Paus berbicara dengan suara misterius dari dalam menara, Gabriel mencuri segel tersebut dan mengembalikannya ke dunia iblis, Sesidhbana (“The Tower”), yang menandai berakhirnya bagian pertama.

 Namun, Gabriel merasa belum puas. Ia ingin mengetahui lebih jauh mengenai Avantasia, sehingga Elderane mengirimnya ke Pohon Pengetahuan. Disana, Gabriel menemukan penglihatan mengenai Bruder Jakob yang menderita di sebuah danau api. Kemudian Elderane menceritakan tentang chalice emas yang di dalamnya terdapat banyak jiwa yang menderita dan terperangkap, serta tentang monster penjaga chalice itu. Meski elf itu melarangnya, Gabriel dan Regrin menuju dunia manusia. Mereka menemukan chalice itu, dan menghancurkannya, yang menyebabkan jiwa-jiwa yang terperangkap dapat melarikan diri (“Chalice of Agony”). Monster penjaga terbangun, dan akhirnya Regrin terbunuh, namun Gabriel dapat melarikan diri.

 Kemudian, Gabriel kembali kepada Vandroiy, yang sedang menunggunya. Ia menepati janjinya dan melarikan bersama pada malam harinya untuk membebaskan Anna. Ketika itu pula mereka bertemu dengan Bruder Jakob yang bermaksud untuk melakukan hal yang sama. Falk Von Kornberg, yang memiliki keraguan dalam ingatannya (“Memory”) berhasil menangkap mereka. Perkelahian pun tak dapat dihindari, Vandroiy dibunuh oleh Kornberg, namun Bruder Jakob dapat membunuh Kornberg. Anna melarikan diri dan akhirnya bersama Gabriel. Bersama, mereka akan menghadapi masa depan yang masih berupa misteri (“Into The Unknown”).

 Tracklisting The Metal Opera :

  1. “Prelude” – 1:11
  2. “Reach Out for the Light” – 6:33
  3. “Serpents in Paradise” – 6:16
  4. “Malleus Maleficarum” – 1:43
  5. “Breaking Away” – 4:35
  6. “Farewell” – 6:33
  7. “The Glory of Rome” – 5:29
  8. “In Nomine Patris” – 1:04
  9. “Avantasia” – 5:32
  10. “A New Dimension” – 1:39
  11. “Inside” – 2:24
  12. “Sign of the Cross” – 6:26
  13. “The Tower” – 9:43

Tracklisting The Metal Opera Part II

  1. “The Seven Angels” – 14:17
  2. “No Return” – 4:29
  3. “The Looking Glass” – 4:53
  4. “In Quest for” – 3:54
  5. “The Final Sacrifice” – 5:02
  6. “Neverland” – 5:00
  7. “Anywhere” – 5:29
  8. “Chalice of Agony” – 6:00
  9. “Memory” – 5:44
  10. “Into the Unknown” – 4:29

Sonic Boom, Kebangkitan Kembali Band Rock Veteran KISS

•November 7, 2009 • 2 Comments
Cover Album Sonic Boom

Cover Album Sonic Boom

Anda tentunya kenal dengan Kuburan Band, band metal hidrolik asal Bandung yang lagi naik daun karena musik dan penampilannya yang lain dari yang lain. Tapi, kenalkah anda dengan KISS?? Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa KISS lah yang menginsiprasi Kuburan Band dalam segi stage outfit. Meski Kuburan Band mengelak dengan berujar bahwa mereka terinspirasi dari kelompok humor Ria Jenaka yang disiarkan TVRI, kalau diperhatikan dengan seksama Kuburan Band jelas-jelas menjiplak penampilan band asal New York ini. Dan di awal bulan oktober ini, KISS merilis studio album yang ke-19. Jika album rock ini booming di Indonesia, mungkin Kuburan Band akan malu karena penggemar mereka sadar akan ketidakorisinilan Kuburan Band yang baru merilis dua buah album tersebut.

Sejak album terakhir mereka, Psycho Circus yang rilis tahun 1998, personil KISS vakum selama lebih dari sepuluh tahun. Hingga akhirnya di akhir tahun 2008, dua pentolan KISS, Paul Stanley (vocal/guitar) dan Gene Simmons (vocal/bass) membeberkan ke media bahwa mereka sedang dalam proses pengerjaan album terbaru yang disebut-sebut Stanley sebagai album dengan “real 70’s KISS sound.

Performance Live KISS

Performance Live KISS

Dengan diproduseri sendiri oleh Paul Stanley, akhirnya studio album yang bernama Sonic Boom ini rilis pada tanggal 6 Oktober 2009. Konsep musik Rock N Roll dan Hard Rock masih setia diusung oleh band yang berdiri sejak 1973 ini. Yang unik adalah keseluruhan album dibuat dengan cara rekaman analog, sehingga sangat mirip dengan suara KISS di akhir tahun ’70-an. Cover album mereka kali ini pun seklasik musik di dalamnya.

Meski duo lead vocal KISS sudah tak muda lagi (Simmons 60, Stanley 57), album ini masih dapat memberi bukti kepada KISS Army bahwa mereka belum “habis”. Track pertama, “Modern Day Deliliah” berhasil membuka album ini dengan baik dengan style musik serupa album Revenge. Track yang tanggal 19 Agustus lagu dirilis sebagai single ini mampu mewakili apa yang akan disajikan KISS di album terbarunya ini. “Russian Roulette” dan “Yes I Know (Nobody’s Perfect)” merupakan dua lagu terbaik yang dinyanyikan Gene Simmons . Sedangkan vokal Paul Stanley yang khas terbukti tidak termakan usia di track Never Enough” dan “Danger Us”. Sang drummer Eric Singer juga kebagian menyanyi di track All For The Glory”, dan hasilnya tidak mengecewakan. Begitu pula lead guitar Tommy Thayer yang kebagian mengisi suara di track When Lightning Strikes”, kualitas vokalnya disebut-sebut jauh lebih baik daripada Ace Frehley, gitaris KISS terdahulu.

Track-track lainnya pun dibuat solid dan impresif, seperti “I’m An Animal” yang memperdengarkan kita dentuman bass Gene Simmons yang bombastis. Kemudian ada “Stand” yang mengingatkan kita dengan tembang “God Save Rock N Roll To You” mereka, dan “Hot And Cold” yang mirip “Love Em Leave Em”. Penutup album “Say Yeah” yang berupa easy-listening anthem memaksa kita berucap “Oh Yeah” setelah 43 menit mendengarkan keseluruhan isi album.

Gene Simmons

Gene Simmons

Secara umum, album ini melebihi ekspektasi pencinta musik yang mengenal KISS sejak tahun ’70-‘80an. Dibanding album Psycho Circus, album ini jauh lebih baik. Paul Stanley tetap Paul Stanley yang dulu, musikalitas cemerlang dan lirik yang brilian. Gene Simmons dan Eric Singer sedang berada di top notch, dan applause pantas kita tujukan kepada Tommy Thayer yang di album ini berhasil mengalahkan paradigma bahwa ia tidak akan pernah melampaui Ace Frehley.

Mungkin ini adalah album terakhir KISS, mengingat usia personilnya. Namun, siapa tahu ke depannya KISS masih dapat berkarya seperti yang dilakukan Brian Johnson bersama AC/DC. Atau bisakah kita berharap band “KISS-like” seperti Kuburan Band melanjutkan legacy yang telah dibangun KISS lebih dari 30 tahun? Maybe yes, absolutely no!

Misteri Kematian Kurt Cobain

•August 20, 2009 • 30 Comments
Kurt Cobain

Kurt Cobain

Kurt Donald Cobain, ikon musik alternatif terpenting di masanya, meninggalkan penggemar serta semua orang yang menyayanginya di puncak kesuksesannya bersama Nirvana. Cobain memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri dengan mengonsumsi banyak drugs dan dibantu oleh sebuah revolver. Kurt Cobain, yang merupakan aktor dibalik lahirnya musik Grunge ini, sebelumnya memang disinyalir akan melakukan aksi bunuh diri berdasarkan statement-statementnya kepada press, dan juga berdasar ketergantungan akan drugs nya yang amat parah. Ditambah tekanan-tekanan dari reporter tabloid yang tak henti-hentinya membuntuti kehidupannya bersama istrinya, Courtney Love. Dirilisnya album kedua Nirvana, Nevermind justru memperparah keadaan, Cobain semakin menjadi sasaran ekspos pengumpul berita, Cobain pun semakin muak dengan keadaan yang dihadapinya.

Drama kematian Cobain berawal di tahun 1994, ketika Nirvana berada di Munich, Jerman. Cobain didiagnosa menderita bronchitis dan laryngitis yang parah. Ia diterbangkan ke Roma untuk menjalani perawatan, dan beberapa hari kemudian istrinya, Courtney Love megetahui bahwa Cobain mengalami overdosis karena mengonsumsi champagne dengan Rohypnol. Cobain langsung dilarikan ke rumah sakit dan berhari-hari tidak sadarkan diri.

Performance Cobain Bersama Nirvana

Performance Cobain Bersama Nirvana

Kemudian tanggal 18 Maret, Love menelepon polisi dan memberitahu bahwa suaminya mengurung diri di kamar dengan sebuah pistol bersamanya. Polisi berhasil menyita pistol dan beberapa botol berisi pil. Namun Cobain saat itu menyatakan bahwa ia tidak berusaha untuk melakukan tindakan bunuh diri, tetapi hanya sekadar bersembunyi dari istrinya.

Beberapa hari kemudian, Cobain setuju untuk melakukan detox berkat bujukan istri dan orang-orang yang dekat dengannya. Tanggal 30 Maret, Cobain berada di Exodus Recovert Center di Los Angeles, California. Di hari selanjutnya, Cobain melarikan diri dengan memajat pagar setinggi 6 kaki kemudian menaiki taksi dan menuju Los Angeles Airport dan kembali ke rumahnya di Seattle. Di rentang tanggal 2 sampai 3 April, Cobain terlihat di beberapa tempat di sekitar Seattle, namun kerabatnya tidak mengetahui kemana Cobain menghilang.

Revolver Untuk Bunuh Diri

Revolver Untuk Bunuh Diri

Selanjutnya pada tanggal 8 April 1994, seorang tukang listrik menemukan tubuh Cobain di rumahnya di Lake Washington ketika ia datang untuk melakukan pemasangan security system. Tukang listrik itu mengira Cobain sedang tidur sampai ia melihat sebuah revolver yang mengarah ke dagunya. Sebuah surat menjelang kematian juga berada bersamanya. Berikut teks yang ada di surat itu :

To Boddah

Speaking from the tongue of an experienced simpleton who obviously would rather be an emasculated, infantile complain-ee. This note should be pretty easy to understand. All the warnings from the punk rock 101 courses over the years, since my first introduction to the, shall we say, the ethics involved with independence and the embracement of your community has proven to be very true. I haven’t felt the excitement of listening to as well as creating music along with reading and writing for too many years now. I feel guilty beyond words about these things. For example when we’re backstage and the lights go out and the manic roar of the crowd begins, it doesn’t affect me the way in which it did for Freddy Mercury, who seem to love, relish in the love and adoration from the crowd, which is somehting I totally admire and envy. The fact is, I can’t fool you, any one of you. It simply isn’t fair to you or me. The worst crime I can think of would be to rip people off by faking it and pretending as if I’m having 100% fun. Sometimes I feel as if I should have a punch-in time clock before I walk out on stage. I’ve tried everything within my power to appreciate it (and I do, God believe me I do, but it’s not enough). I appreciate the fact that I and we have affected and entertained a lot of people. I must be one of those narcissists who only appreciate things when they’re gone. I’m too sensitive. I need to be slightly numb in order to regain the enthusiasm I once had as a child. On our last 3 tours, I’ve had a much better appreciation for all the people I’ve known personally and as fans of our music, but I still can’t get over the frustration, the guilt and empathy I have for everyone. There’s good in all of us and I think I simply love people too much, so much that it makes me feel too fucking sad. The sad little sensitive, unappreciative, Pisces, Jesus man. Why don’t you just enjoy it? I don’t know! I have a goddess of a wife who sweats ambition and empathy and a daughter who reminds me too much of what I used to be, full of love and joy, kissing every person she meets because everyone is good and will do her no harm. And that terrifies me to the point where I can barely function. I can’t stand the thought of Frances becoming the miseraable, self-destructive, death rocker that I’ve become. I have it good, very good, and I’m grateful, but since the age of seven, I’ve become hateful towards all humans in general. Only because it seems so easy for people to get along and have empathy. Only because I love and feel sorry for people too much I guess. Thank you all from the pit of my burning, nauseous stomach for your letters and concern during the past years. I’m too much of an erratic, moody, baby! I don’t have the passion anymore, and so remember, it’s better to burn out then to fade away. Peace, Love, Empathy. Kurt Cobain.

Frances and Courtney, I’ll be at your altar

Please keep going Courtney,

for Frances.

for her life will be so much happier

without me. I LOVE YOU. I LOVE YOU

Suicide Note Kurt Cobain

Suicide Note Kurt Cobain

Di awal surat, terdapat kata-kata “To Boddah”, yang merupakan nama teman imajinasi Cobain semasa kecil. Kemudian Cobain juga mengutip lirik lagu Neil Young yang berjudul “My My, Hey Hey (Out of the Blue)” : “It’s better to burn out than to fade away”. Selain itu, punggawa band Queen, Freddy Mercury juga disebut-sebut sebagai pembanding dirinya dalam hal mencintai dan menghargai para penggemar.

Cobain diperkirakan telah meninggal tiga hari yang lalu sebelum jenazahnya ditemukan, tepatnya tanggal 5 April 1994. Konsentrasi tinggi dari heroin dan Valium juga ditemukan dari tubuhnya. Tentu saja drugs yang dikonsumsinya saat itu juga berkemungkinan menjadi penyebab meninggalnya ayah dari seorang anak bernama Frances Bean Cobain ini.Berbagai spekulasi bermunculan menyusul kematian Cobain, ada yang mengatakan bahwa Cobain sebenarnya dibunuh oleh orang lain, bahkan Courtney Love disebut-sebut sebagai pelakunya yang melakukan balas dendam kepada Cobain yang sebelumnya mengungkapkan rencana perceraian.

Kurt dan Frances

Kurt dan Frances

Orang yang paling percaya akan adanya konspirasi dalam kematian Kurt Cobain adalah Tom Grant, seorang investigator yang disewa oleh Courtney Love untuk mencari Cobain yang sebelumnya kabur dari tempat rehabilitasi. Grant masih bekerja untuk Love ketika jasad Cobain ditemukan, sehingga ia diberikan akses untuk menganalisis surat kematian tersebut. Ia percaya bahwa surat itu bukanlah sebuah surat kematian, tetapi surat yang menyatakan keinginannya untuk meninggalkan dunia musik, Seattle, dan bahkan istrinya. Ia juga berspekulasi tentang beberapa baris tulisan di bagian paling bawah bukanlah tulisan Cobain yang sebenarnya, dengan alasan beberapa baris itu memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan tulisan-tulisan di atasnya. Langkah Grant selanjutnya adalah mengirimkan photocopy surat kematian itu kepada empat orang ahli tulisan tangan. Hasilnya adalah, satu orang menyatakan bahwa surat itu keseluruhannya ditulis oleh tangan Cobain sendiri, sedangkan tiga orang lainnya menyatakan bahwa sample yang dikirimkan tidak dapat disimpulkan, karena berupa photocopy dari surat aslinya.

Bersama Jim Morrison, Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Brian Jones, Kurt Cobain menjadi musisi lain yang meninggal di usia 27 tahun. Berdasakan buku Heavier Then Heaven, sebuah buku diskografi Kurt Cobain, saudara perempuan Cobain mengungkapkan bahwa ketika Cobain masih anak-anak, ia pernah menyatakan ingin bergabung ke dalam 27 Club, yaitu club musisi yang meninggal di usia 27 tahun.

Sekitar tujuh ribu orang berkumpul di taman Seattle Center mengiringi pemakaman Kurt Cobain pada tanggal 10 April. Berduka akan kematian seorang bintang rock yang mengubah dunia musik di tahun 90an itu. Rest In Peace, Kurt Cobain.

The Tielman Brothers, Grup Rock n’ Roll Indonesia di Zaman Penjajahan

•July 30, 2009 • 3 Comments

Bagi anda yang berpikir bahwa ranah musik Indonesia tidak semaju dunia musik di negara-negara lain, mungkin anda harus memikirkannya kembali. Karena dulu di tahun 1945, Maluku telah melahirkan grup band Rock n’ Roll jauh sebelum The Beatles dibentuk, “The Tielman Brothers”.

The Tielman Brothers

The Tielman Brothers

Band yang aktif pada tahun 1945 sampai 1976 ini dibentuk oleh anak-anak dari pemusik Indonesia yang bernama Herman Tielman, seorang kapten tentara KNIL. Personil The Tielman Brothers adalah sebagai berikut :

  • Andy Tielman – vokal, gitar
  • Reggy Tielman – gitar, banjo, vokal
  • Ponthon Tielman – contrabass, gitar, vokal
  • Loulou (Herman Lawrence) Tielman – drum, vokal
  • Jane (Janette Loraine) Tielman – vokal

Perjalanan musik The Tielman Brothers dimulai di Surabaya pada tahun 1945, dimana empat kakak beradik laki-laki dan seorang adik perempuannya, Jane, sering tampil membawakan lagu-lagu dan tarian daerah. Musik mereka beraliran rock and roll, namun orang-orang di Belanda biasa menyebut musik yang mereka usung beraliran Indorock. The Tielman Brothers pernah tampil di Istana Negara Jakarta dihadapan Presiden Soekarno.

Performance The Tielman Brothers yang atraktif

Performance The Tielman Brothers yang atraktif

Berawal dari ketertarikan Ponthon untuk memainkan contrabass yang diikuti saudara-saudaranya yang lain. Reggy mempelajari banjo, Loulou mempelajari drum, dan Andy mempelajari gitar. Penampilan pertama mereka pada acara pesta di rumahnya membuat teman-teman ayahnya kagum dengan membawakan lagu-lagu sulit seperti Tiger Rag dan 12th Street Rag. Sejak saat itu mereka sering tampil di acara-acara pribadi di Surabaya. Tawaran tampil pun berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia. Sampai pada akhirnya pada tahun 1957 mereka sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke Belanda.

Disana, mereka menetap di Breda dan memulai karir rekaman. Nama The Tielman Brothers lebih dikenal di Eropa, terutama Belanda. Di Indonesia sendiri, nama The Tielman Brothers masih menjadi nama yang asing, sebuah kenyataan yang sangat disayangkan.

The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah mempopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, dibelakang kepala atau dibelakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.

Avantasia, Metal Project dengan Lima Belas Orang Vokalis

•July 23, 2009 • 1 Comment
Cover Album The Metal Opera

Cover Album The Metal Opera

Lima Belas orang vokalis? Apakah Avantasia adalah sebuah paduan suara? Tentu saja bukan. Karena Avantasia adalah sebuah sebuah metal project bentukan Tobias Sammet (ex-Edguy) yang beraliran symphonic metal/power metal. Selama menggeluti ranah musik metal, Avantasia telah meluncurkan tiga buah full-length album yang merupakan concept album, yaitu The Metal Opera, The Metal Opera Part II, dan The Scarecrow. Selain Tobias Sammer, sang pendiri, personil Avantasia adalah musisi-musisi luar baik pemegang instrument maupun vokalis. Dari tiga full-length album Avantasia, tercatat sebanyak lima belas orang vokalis yang telah menyumbangkan suaranya.

Di album perdananya, vokalis yang kesemuanya memiliki kemampuan menyanyi high-pitch berjumlah sepuluh orang dengan sepuluh peran berbeda pula. Berikut adalah daftar peran beserta “pemerannya”:

  • Gabriel Laymann – Tobias Sammet (Edguy)
  • Lugaid Vandroiy – Michael Kiske (credited as Ernie) (ex-Helloween)
  • Friar Jakob – David DeFeis (Virgin Steele)
  • Bailiff Falk von Kronberg – Ralf Zdiarstek
  • Anna Held – Sharon den Adel (Within Temptation)
  • Bishop Johann von Bicken – Rob Rock (Impellitteri)
  • Pope Clement VIII – Oliver Hartmann (ex-At Vance)
  • Elderane the Elf – Andre Matos (ex-Shaaman, ex-Angra, ex-Viper)
  • Regrin the Dwarf – Kai Hansen (Gamma Ray, ex-Helloween)
  • Voice of the Tower – Timo Tolkki (Revolution Renaissance, ex-Stratovarius)

Di antara penyanyi-penyanyi ini, Tobias Sammet dan Michael Kiske adalah yang paling banyak kontribusinya dalam album ini. Sammet mengisi semua track kecuali tiga buah track instrument, yaitu “Malleus Maleficarum”, “In Nomine Patris”, dan “A New Dimension”, serta sebuah Prelude. Sedangkan vokalis Within Temptation, Sharon den Adel hanya sekali mengisi suara di track “Farewell”. Begitu juga Timo Tolkki, mantan vokalis Stratovarius ini hanya bernyanyi di track “The Tower” sebagai suara dari dalam menara. Di track ke sebelas, “Inside”, Kai Hansen dan Andre Matos berkolaborasi dengan Sammet dengan hanya diiringi oleh piano dari Frank Tischer.

Line up vokalis The Metal Opera Part II persis seperti di album sebelumnya. Hanya saja di bagian kedua ini, turut serta Bob Catley, vokalis Magnum, yang berperan sebagai Tree Of Knowledge atau Pohon Pengetahuan. Michael Kiske hanya bernyanyi di track pertama dan kedua di album ini, tidak seperti di album sebelumnya dimana Kiske turut serta dalam lima buah track. Track pertama yang berjudul “The Seven Angel” dengan durasi 14:03 menit dinyanyikan oleh tujuh vokalis sekaligus, yaitu Tobias Sammet, Michael Kiske, David DeFeis, Rob Rock, Oliver Hartmann, Andre Matos, Kai Hansen, dan Timo Tolkki. Di album kedua ini, dalam setiap track tidak terlalu banyak vokalis yang turut menyumbang suara. Hampir semua track diisi oleh hanya dua vocal, bahkan di track “Anywhere”, Sammet bernyanyi solo.

Cover Album The Metal Opera Part2

Cover Album The Metal Opera Part2

Yang menarik adalah, di track pertama Timo Tolkki tidak hanya ikut dalam “paduan suara”, tetapi juga menjadi lead guitar. Selain itu, ia juga menjadi lead guitar di track terakhir “Into The Unknown”, mengiringi nyanyian Sharon den Adel dan Tobias Sammet yang juga memainkan bass di track ini. Di track terakhir ini pula, posisi drum yang dipegang drummer Rhapsody Of Fire, Alex Holzwarth, digantikan oleh Eric Singer yang pernah ikut menukangi band KISS, Black Sabbath, dan Alice Cooper.

The Scarecrow, yang menceritakan kisah berbeda, juga memboyong vokalis yang berbeda pula. Berikut formasi vokalis di album ketiga Avantasia ini:

  • Tobias Sammet (Edguy)
  • Roy Khan (Kamelot, ex-Conception)
  • Jørn Lande (Jorn, ex-Masterplan)
  • Michael Kiske (ex-Helloween, Ill Prophecy, Place Vendome, Supared)
  • Bob Catley (Magnum)
  • Amanda Somerville
  • Alice Cooper (Alice Cooper)
  • Oliver Hartmann (ex-At Vance)

    Cover Album The Scarecrow

    Cover Album The Scarecrow

Album ini dibuka oleh track “Twisted Mind” yang dibawakan duet oleh Tobias Sammet dan Roy Khan, sang vokalis band Kamelot. Title track yang berdurasi 11:14 menit, “The Scarecrow” dinyanyikan oleh Sammet bersama Jorn Lande dan Michael Kiske. Vocal perempuan yang sebelumnya dilakoni Sharon den Adel kali ini diisi oleh Amanda Somerville yang unjuk kebolehan di track “What Kind Of Love” dan “Lost In Space”. Penyanyi legendaries Alice Cooper juga direkrut dalam album ini dan dipercaya membawakan track “Toy Master”.

Kai Hansen yang di album-album sebelumnya selalu berada di posisi vokalis kali ini hanya berperan sebagai additional lead guitar di track “The Scarecrow”. Michael “Miro” Rodenberg memberi kontribusi di posisi keyboardist dan memimpin orchestration hampir di semua track. Selain itu juga ada Rudolf Schenker, gitaris band Scorpion yang didaulat untuk memainkan acoustic guitar di track kesepuluh, “Cry Just a Little”. Sedangkan posisi drummer diisi oleh Eric Singer.

Dari ketiga album tersebut, sebanyak lima belas vokalis telah berperan dalam pembuatan project revolusionir di dunia metal itu. Di akhir tahun 2009, Avantasia akan merilis album keempatnya. Siapa lagi yang akan diajak Tobias Sammet untuk bernyanyi bersamanya? Kita lihat saja nanti.

Crack The Skye, Kematangan Bermusik Mastodon

•July 16, 2009 • 1 Comment

Band Progressive/Sludge Metal, Mastodon, merilis studio album keempat yang ber-title Crack The Skye. Dengan bekerja sama dengan produser Brendan O’Brien, album ini dirilis melalui Reprise Records pada tanggal 24 Maret 2009. Sang Drummer, Brann Dailor mengatakan bahwa album ini dipersembahkan kepada adiknya yang melakukan aksi bunuh diri di usia 14 tahun.

Seperti album-album sebelumnya, Mastodon masih mengangkat tema-tema berbau mistis. Tema dan lirik yang diangkat dipenuhi dengan unsur mitos yang kuat, nuansa psychedelic sangat terasa. Namun teknik vocal pada album lebih banyak menggunakan clean vocal dibandingkan album-album sebelumnya.

Cover Album Crack The Skye

Cover Album Crack The Skye

Crack The Skye dibuka dengan track “Oblivion” yang berat, penuh distorsi, dan menyuguhkan vocal berbeda-beda dari bassist Troy Sanders, gitaris Brent Hinds, dan drummer Brann Dailor. Track ini cukup unik, karena memiliki beat berbeda-beda setiap pergantian vocal bahkan terkesan ganjil, dan sama sekali tidak ada scream atau growl vocal yang terdengar. Berbeda dengan album sebelumnya, Blood Mountain, yang dibuka dengan track “The Wolf Is Loose” yang agresif, cepat, dan catchy, album ini sepertinya ingin menunjukkan Mastodon yang lebih “gelap” dari album-album sebelumnya.

Track kedua, “Divinations”, merupakan ajang “pamer” Mastodon dalam kematangannya bermain musik. Di track ini, agresivitas berpadu dengan nuansa mistik dengan iringan riff gitar melodis dari Brent Hinds dan Bill Kelliher serta gebukan drum meledak-ledak Brann Dailor. Guitar solo Kelliher menjadi pemanis sebelum track pendek berdurasi 3:29 menit itu selesai.

Video Klip "Oblivion"

Video Klip "Oblivion"

“Quintessence” di track ketiga memberikan nuansa gelap dengan bunyi bass Sanders yang menggema sepanjang track. Duet gitaris Hinds dan Kelliher saling beradu sampai akhir lagu. Sedangkan “The Czar” yang berdurasi 10:54 menit menceritakan tentang khayalan Grigory Rasputin mengenai astral (bintang).

“Ghost of Karelia” sangat menarik untuk didengarkan sampai akhir track. Dan title-track “Crack The Skye” menampilkan additional vocal dari Scott Kelly yang juga pernah mengisi vocal di track “Crystall Skull” di album Blood Mountain.

Brent Hinds dan Bill Kelliher

Brent Hinds dan Bill Kelliher

Track terakhir dan terpanjang dengan durasi 13:00 menit, “The Last Baron” merupakan ringkasan yang dapat menggambarkan album ini secara keseluruhan. Dimulai dengan guitar-picking yang harmonis dan vocal yang terdengar desperate, dilanjutkan dengan march mid-tempo dengan gebukan drum yang menggila.

Secara keseluruhan, album bertotal durasi 50:08 ini mampu menegaskan warna musik yang selama ini diusung Mastodon. Dengan skill yang mereka miliki, Mastodon mampu membuat progressive metal tidak membosankan, dan membuat sludge metal tidak terlalu primitif. Album ini mendapat banyak kritik positif dari situs review. Total Guitar memberikan rating 5/5 yang beranggapan album ini lebih baik dari album Blood Mountain yang rilis tahun 2006.

Track-listing:

  1. “Oblivion”   5:47
  2. “Divinations”   3:39
  3. “Quintessence”   5:27
  4. “The Czar: I. Usurper – II. Escape – III. Martyr – IV. Spiral”   10:54
  5. “Ghost of Karelia”   5:25
  6. “Crack the Skye”   5:54
  7. “The Last Baron”   13:01

John 5 Bakal Gantikan Posisi Zakk Wylde

•July 13, 2009 • Leave a Comment

Seperti dikutip dari majalah Classic Rock Magazine, legenda metal Ozzy Osbourne mengungkapkan bahwa posisi Zakk Wylde sebagai lead guitar dalam grup bandnya bakal tergantikan.  Ozzy juga menuturkan bahwa Ia kemungkinan akan menggaet gitaris John 5 untuk menggantikan Zakk yang sudah setia selama 20 tahun di belantara musik metal bersamanya.

Ozzy dan Zakk "cerai"

Ozzy dan Zakk "cerai"

“Zakk mempunyai bandnya sendiri, dan aku merasa musikku terdengar seperti Black Label Society. Aku merasa ingin sebuah perubahan”, ucap Ozzy.

John 5, gitaris yang pernah menjadi personil band David Lee Roth, Marylin Manson, dan Rob Zombie ini diprediski sebagai pengganti Zakk Wylde yang tepat. Sebelumnya Ozzy sudah pernah mendekati John 5, tapi Ia akan mencobanya sekali lagi.

Album terbaru yang sedang digarap Ozzy Osbourne merupakan kesempatan John 5 untuk membuktikan dirinya pantas untuk mendampingi karir bermusik ‘The Godfather of Metal’ ini.